
Ada masa ketika sulit bersyukur bukan karena kita tidak memiliki apa-apa, tetapi karena apa yang kita miliki terasa berbeda dari apa yang kita harapkan. Kita mungkin masih memiliki keluarga, pekerjaan, kesehatan, tempat tinggal, dan banyak nikmat lainnya. Namun, satu hal yang belum terwujud sering kali membuat semua nikmat tersebut terasa kecil. Manusia memang memiliki kecenderungan untuk lebih memperhatikan sesuatu yang hilang daripada sesuatu yang masih dimiliki. Ketika rencana tidak berjalan sesuai keinginan, hati mudah dipenuhi pertanyaan.
Pada kondisi seperti itu, kita bisa menjadi sulit bersyukur. Bukan karena Allah tidak memberikan nikmat, tetapi karena perhatian kita terlalu terpusat pada sesuatu yang belum diberikan. Padahal, bisa jadi di balik sesuatu yang belum kita miliki terdapat hikmah yang belum mampu kita pahami.
Mengapa Kita Sulit Bersyukur?
Rasa sulit bersyukur sering muncul ketika kenyataan tidak sesuai dengan gambaran yang sudah kita buat. Kita memiliki rencana tentang pekerjaan, keluarga, pasangan, keuangan, pendidikan, kesehatan, maupun masa depan. Ketika semuanya berjalan sesuai rencana, kita merasa mudah untuk bersyukur. Namun, ketika satu per satu rencana tersebut berubah, rasa syukur dapat ikut melemah. Kita mulai melihat kehidupan dari sisi kekurangan. Hal-hal yang sebelumnya membuat kita bahagia terasa biasa saja. Pikiran justru terus tertuju pada apa yang belum tercapai.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa bersyukur bukan berarti hidup harus selalu sesuai dengan keinginan. Bersyukur adalah kemampuan untuk tetap menyadari bahwa di tengah sesuatu yang tidak kita sukai, masih ada nikmat Allah yang layak dihargai.
Harapan Kita Tidak Selalu Sama dengan Ketetapan Allah
Salah satu alasan mengapa kita sulit bersyukur adalah karena kita terlalu yakin bahwa apa yang kita inginkan pasti merupakan sesuatu yang terbaik bagi kita. Padahal, manusia hanya mengetahui sebagian kecil dari kehidupannya. Kita dapat melihat apa yang terjadi hari ini, tetapi tidak mengetahui seluruh akibat dari sebuah keputusan di masa depan. Kita dapat menginginkan sesuatu karena terlihat baik, tetapi Allah mengetahui sesuatu yang belum kita ketahui. Allah berfirman :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al- Baqarah: 216)
Ayat tersebut mengajarkan sebuah prinsip penting. Tidak semua yang kita sukai pasti baik bagi kita. Sebaliknya, tidak semua yang tidak kita sukai berarti buruk. Karena itu, ketika hidup tidak sesuai harapan, kita perlu belajar mengatakan kepada diri sendiri bahwa mungkin ada sesuatu yang belum kita pahami dari ketetapan Allah.
Sulit Bersyukur Karena Terlalu Fokus pada Kekurangan
Kita sering kali tidak kehilangan nikmat, tetapi kehilangan kemampuan untuk melihat nikmat tersebut. Seseorang mungkin mengeluhkan penghasilannya karena belum sebesar orang lain. Padahal, ia masih memiliki pekerjaan. Seseorang mungkin kecewa karena belum memiliki rumah sendiri. Padahal, ia masih memiliki tempat tinggal yang nyaman. Seseorang mungkin merasa hidupnya tertinggal karena belum menikah. Padahal, ia masih memiliki keluarga dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Masalahnya bukan selalu pada jumlah nikmat, tetapi pada arah perhatian kita. Ketika mata hanya melihat kekurangan, nikmat yang besar pun terasa kecil. Sebaliknya, ketika hati belajar memperhatikan nikmat, masalah yang berat tidak selalu terasa sebagai akhir dari segalanya.
Membandingkan Hidup Membuat Rasa Syukur Semakin Sulit
Media sosial membuat manusia semakin mudah membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Kita melihat seseorang membeli rumah, mendapatkan pekerjaan baru, menikah, memiliki kendaraan, bepergian, atau mencapai kesuksesan tertentu. Namun, kita hanya melihat bagian yang mereka tampilkan. Kita tidak melihat seluruh perjuangan, kegagalan, masalah keluarga, kecemasan, utang, atau ujian yang mungkin mereka hadapi. Akibatnya, kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan orang lain yang terlihat indah. Kebiasaan tersebut dapat membuat kita sulit bersyukur. Kita mulai bertanya, “Mengapa hidup saya tidak seperti dia?” Padahal, setiap manusia memiliki perjalanan yang berbeda. Allah tidak menciptakan setiap orang dengan jalan hidup yang sama.
Ada banyak nikmat yang baru kita sadari nilainya ketika nikmat tersebut hilang. Kesehatan sering terasa biasa sampai kita sakit. Waktu bersama keluarga sering terasa sederhana sampai seseorang pergi. Kesempatan beribadah terkadang terasa biasa sampai tubuh tidak lagi kuat. Ketenangan hati sering tidak disadari sampai seseorang mengalami kegelisahan. Karena itu, salah satu cara mengatasi sulit bersyukur adalah dengan sengaja memperhatikan nikmat yang selama ini kita anggap biasa. Cobalah melihat kembali kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Masihkah kita memiliki orang yang menyayangi kita? Memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri? Masihkah kita bisa berdoa? Dan masihkah kita memiliki waktu untuk berbuat baik? Jika jawabannya iya, berarti masih ada begitu banyak alasan untuk bersyukur.
Mengubah Pertanyaan dari “Mengapa Saya?” Menjadi “Apa Hikmahnya?”
Ketika mengalami ujian, kita sering bertanya, “Mengapa saya?” Pertanyaan tersebut sangat manusiawi. Namun, jika terus dipelihara, pertanyaan itu dapat membuat kita terjebak dalam rasa kecewa. Cobalah perlahan mengubahnya menjadi, “Apa yang bisa saya pelajari dari keadaan ini?” Pertanyaan tersebut membuat kita melihat ujian dari sudut pandang yang berbeda. Kegagalan mungkin mengajarkan kesabaran. Penolakan mungkin mengajarkan keteguhan. Kehilangan mungkin mengajarkan bahwa dunia tidak selamanya. Keterlambatan mungkin mengajarkan kita untuk memperbaiki hubungan dengan Allah. Kita mungkin tidak langsung menemukan jawabannya. Namun, proses mencari hikmah dapat membuat hati lebih terbuka terhadap ketetapan Allah.
Tidak semua nikmat hadir dalam bentuk kenyamanan. Ada kalanya nikmat datang dalam bentuk ujian. Sakit dapat membuat seseorang lebih dekat kepada Allah. Kehilangan dapat membuat seseorang menyadari nilai orang-orang yang masih ada. Kegagalan dapat membuat seseorang memperbaiki arah hidup. Kesulitan dapat membuat seseorang lebih banyak berdoa. Bukan berarti kita harus mencari kesulitan. Namun, ketika kesulitan datang, kita dapat berusaha mencari makna di dalamnya. Allah bisa memberikan kebaikan melalui sesuatu yang pada awalnya terasa menyakitkan.
Cara Melatih Diri Agar Lebih Mudah Bersyukur
Bersyukur bukan hanya perasaan yang muncul secara spontan. Rasa syukur juga dapat dilatih. Salah satu caranya adalah membiasakan diri menyebutkan nikmat yang kita miliki setiap hari. Tidak harus sesuatu yang besar. Kita bisa bersyukur karena masih diberi kesehatan, bisa makan, memiliki keluarga, pekerjaan, bisa beribadah, atau masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Kita juga dapat mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Ketika melihat keberhasilan seseorang, jadikan itu sebagai motivasi, bukan alasan untuk merendahkan kehidupan sendiri.
Selain itu, biasakan mengingat bahwa kehidupan dunia memang tidak sempurna. Akan selalu ada sesuatu yang belum kita miliki, selalu ada rencana yang berubah, dan akan selalu ada keinginan yang belum terwujud. Kesadaran tersebut membuat kita lebih realistis dalam menjalani kehidupan.
Bersyukur Membantu Hati Menjadi Lebih Tenang
Rasa syukur tidak selalu mengubah keadaan secara langsung. Namun, syukur dapat mengubah cara kita memandang keadaan. Masalah yang sama dapat terasa berbeda ketika hati dipenuhi keluhan dibandingkan ketika hati belajar menerima. Orang yang bersyukur bukan berarti hidupnya bebas masalah ia tetap menghadapi kesulitan tetapi memiliki cara pandang yang berbeda. Ia memahami bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginannya agar hidup tetap memiliki makna. Ketika hati mulai menerima bahwa Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui, perlahan rasa kecewa dapat berubah menjadi ketenangan.
Keinginan manusia tidak memiliki batas. Ketika mendapatkan satu hal, kita menginginkan hal lain. Setelah mendapatkan pekerjaan kita menginginkan penghasilan yang lebih tinggi, saat memiliki kendaraan kita menginginkan kendaraan yang lebih baik, dan setelah mencapai satu tujuan kita membuat tujuan baru. Jika kebahagiaan selalu bergantung pada terpenuhinya seluruh keinginan, kita akan sulit merasa cukup. Karena itu, bersyukur membutuhkan kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang kita inginkan harus menjadi milik kita. Tidak semua yang kita kejar harus berhasil kita dapatkan. Terkadang, menerima bahwa sesuatu bukan bagian dari kehidupan kita justru membuat hati menjadi lebih tenang.
Bersyukur Saat Hidup Tidak Sesuai Harapan
Pada akhirnya, hidup yang sesuai harapan bukanlah satu-satunya bentuk kehidupan yang baik. Ada banyak hal yang baru kita pahami setelah melewati sebuah perjalanan. Sesuatu yang dahulu kita anggap sebagai kegagalan mungkin ternyata menjadi jalan menuju sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang dahulu kita tangisi mungkin menjadi alasan kita menjadi lebih dekat kepada Allah. Kita tidak selalu mampu memahami takdir ketika sedang menjalaninya. Terkadang, maknanya baru terlihat setelah waktu berlalu. Karena itu, ketika hidup tidak sesuai harapan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah sedang menghukum atau meninggalkan kita. Bisa jadi Allah sedang mengarahkan kita menuju sesuatu yang belum mampu kita lihat.
Ada kesalahpahaman bahwa orang yang bersyukur harus selalu merasa puas dan tidak boleh menginginkan perubahan. Padahal, bersyukur tidak berarti berhenti berusaha. Seseorang boleh memiliki keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Ia boleh berusaha meningkatkan penghasilan, boleh berharap mendapatkan pasangan yang baik, ia juga boleh memiliki cita-cita dan membuat rencana untuk masa depan. Namun, keinginan tersebut sebaiknya tidak membuat hati kehilangan penghargaan terhadap nikmat yang sudah dimiliki. Kita boleh mengejar sesuatu yang belum ada tanpa membenci sesuatu yang sudah Allah berikan. Inilah keseimbangan yang penting. Tangan tetap berusaha, tetapi hati tetap berserah kepada Allah.
Kesimpulan
Sulit bersyukur saat hidup tidak sesuai harapan merupakan pengalaman yang sangat manusiawi. Kita memiliki keinginan, rencana, dan harapan. Ketika semuanya tidak berjalan sebagaimana yang kita bayangkan, hati mudah kecewa dan mulai melihat kehidupan dari sisi kekurangan. Namun, Islam mengajarkan bahwa manusia tidak mengetahui seluruh hikmah di balik takdir Allah. Apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk bagi kita. Begitu pula sesuatu yang sangat kita inginkan belum tentu menjadi pilihan terbaik bagi kehidupan kita.
Karena itu, bersyukur bukan berarti berhenti memiliki cita-cita. Bersyukur berarti tetap menghargai nikmat yang telah Allah berikan sambil terus berusaha mendapatkan kebaikan yang kita harapkan. Kita boleh mengejar masa depan, tetapi jangan sampai lupa menghargai hari ini. Jika hati sedang belajar menerima ketetapan Allah, salah satu cara untuk memperkuat rasa syukur adalah dengan mendekatkan diri kepada-Nya melalui ibadah dan perjalanan spiritual. Umroh dapat menjadi salah satu momentum untuk menenangkan hati, memperbanyak doa, melakukan introspeksi, dan kembali mengingat tujuan hidup.


