Ingin Dipuji atau Ridha Allah: Kita di Posisi Mana?

Ingin Dipuji atau Ridha Allah: Kita di Posisi Mana?

Ingin Dipuji atau Ridha Allah Kita di Posisi Mana

Ingin dipuji atau ridha Allah? sekilas keduanya tampak sejalan. Kita berbuat baik, membantu orang lain, berbagi, bahkan beribadah. Namun dibalik semua itu, ada niat yang menentukan nilai sebenarnya dari setiap amal. Apakah kita melakukan semua itu karena Allah, atau karena ingin mendapat pengakuan dari manusia?

Di dalam diam, ada pertanyaan yang mungkin jarang kita ucapkan, tapi sering kita rasakan. Saat kita berbuat baik, sebenarnya kita ingin dipuji atau ridha Allah? Pertanyaan ini sederhana, tapi jawabannya tidak selalu mudah. Karena seringkali, kita sendiri tidak benar-benar jujur pada apa yang ada di dalam hati. Kita mungkin tersenyum saat membantu, namun ada harap agar itu terlihat. Saat berbagi kebaikan, terselip keinginan untuk diakui. Bahkan dalam ibadah, kadang muncul rasa ingin dipandang lebih baik dari yang lain. Kita mungkin tersenyum saat membantu, namun ada harap agar itu terlihat. Saat berbagi kebaikan, terselip keinginan untuk diakui. Bahkan dalam ibadah, kadang muncul rasa ingin dipandang lebih baik dari yang lain.

Ingin Dipuji atau Ridha Allah: Pergulatan yang Sunyi

Pergulatan antara ingin dipuji atau ridha Allah bukanlah hal yang asing. Bahkan, hampir setiap orang yang beriman pernah merasakannya. Ini bukan tentang siapa yang paling baik, tapi tentang siapa yang paling jujur pada dirinya sendiri. Ada hari di mana kita benar-benar ikhlas. Kita berbuat tanpa ingin diketahui siapa pun. Hati terasa ringan, tenang, dan damai. Namun di hari lain, niat itu terasa bergeser. Kita mulai memperhatikan siapa yang melihat, siapa yang memuji, siapa yang mengapresiasi. Tanpa sadar, fokus kita berubah. Pada hal, amal yang sama bisa bernilai sangat berbeda hanya karena niat yang berbeda.

Ketika Pujian Menjadi Tujuan

Ada satu fase dalam hidup di mana pujian terasa begitu penting. Kita merasa dihargai ketika orang lain mengakui kebaikan kita. Dan itu manusiawi. Namun masalahnya muncul ketika pujian berubah menjadi tujuan, bukan lagi sekedar efek samping. Saat ingin dipuji menjadi tujuan, kita mulai bergantung pada penilaian manusia. Kita menjadi lebih semangat ketika dilihat, dan kehilangan energi ketika tidak diperhatikan. Kita mulai memilih amal yang terlihat, dan meninggalkan amal yang sunyi. Padahal, justru amal yang tersembunyi seringkali lebih dekat dengan keikhlasan.

Tanda Kita Masih Mengejar Pujian

Kadang kita tidak sadar bahwa kita masih condong pada pujian manusia. Beberapa tanda yang bisa kita renungkan seperti, lebih semangat berbuat baik saat dilihat orang, merasa kecewa ketika tidak diapresiasi, sering membandingkan amal dengan orang lain serta senang menceritakan kebaikan diri sendiri. Jika tanda-tanda ini masih ada, bisa jadi kita masih berada di fase ingin dipuji. Amal yang tidak dilandasi keikhlasan bisa kehilangan nilainya di sisi Allah. Bahkan, dalam islam, riya (pamer) termasuk penyakit hati yang harus diwaspadai. Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa amalan yang dilakukan karena ingin dilihat manusia bisa menjadi sia-sia. Inilah mengapa penting untuk terus mengevaluasi diri apakah kita benar-benar mencari ridha Allah, atau hanya ingin dipuji.

Cara Mengubah Niat dari Ingin Dipuji Menjadi Ridha Allah

Berpindah dari ingin dipuji menuju ridha Allah adalah perjalanan yang tidak mudah, tapi sangat mungkin dilakukan. Mulailah dengan ;

1. Menyadari bahwa Allah selalu melihat

Meskipun manusia tidak tahu, Allah Maha Mengetahui setiap niat dan amal kita.

2. Menyembunyikan sebagian amal

Cobalah melakukan kebaikan tanpa diketahui orang lain. Ini melatih keikhlasan hati.

3. Mengingat bahwa pujian manusia bersifat sementara

Apa yang dikatakan manusia hari ini bisa berubah esok hari. Tapi ridha Allah bersifat abadi.

4. Berdoa agar diberikan hati yang ikhlas

Keikhlasan adalah karunia. Mintalah kepada Allah agar hati selalu lurus.

Bahaya Ketika Ingin Dipuji Lebih Dominan daripada Ingin Ridha Allah

Ketika ingin dipuji menjadi tujuan utama, ada dampak yang sering tidak kita sadari. Amal menjadi tidak stabil. Kita hanya semangat saat dilihat, dan malas saat sendirian. Hati menjadi lelah, karena terus bergantung pada penilaian orang lain. Dan yang paling berbahaya, amal bisa kehilangan nilainya di sisi Allah karena tidak dilandasi keikhlasan. Inilah mengapa menjaga niat menjadi hal yang sangat penting dalam setiap kebaikan.

Belajar Ikhlas: Dari Ingin Dipuji Menuju Ingin Ridha Allah

Perjalanan menuju ikhlas bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang terus memperbaiki diri. Akan ada momen di mana kita masih ingin dipuji. Itu wajar. Namun setiap kali kita sadar dan mencoba meluruskan niat, di situlah kita sedang bertumbuh. Ikhlas bukan berarti tidak pernah tergoda, tapi bagaimana kita kembali kepada niat yang benar. Istiqomah dalam memilih ridha Allah adalah proses yang panjang. Tidak selalu mudah, tapi selalu bernilai. Setiap usaha untuk menjaga niat, sekecil apa pun, akan bernilai besar di sisi Allah. Dan semakin sering kita melatihnya, semakin kuat hati kita untuk tetap berada di jalan yang benar.

Kesimpulan

Perjalanan antara ingin dipuji atau ridha Allah adalah perjalanan seumur hidup. Tidak ada garis finish yang jelas, karena hati kita selalu bisa berubah. Namun selama kita terus berusaha meluruskan niat, kita sedang berada di jalan yang benar. Tidak masalah jika hari ini kita masih sering ingin dipuji. Yang penting, kita tidak berhenti untuk memperbaiki diri. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukanlah pengakuan manusia yang sementara, tapi ridha Allah yang abadi.

Dan seringkali, ketika hati mulai benar-benar condong kepada Allah, muncul kerinduan yang lebih dalam seperti kerinduan untuk lebih dekat, lebih bersih, dan lebih tenang. Sebagian orang merasakan panggilan itu dalam bentuk keinginan untuk datang ke Tanah Suci, menyempurnakan perjalanan hati yang selama ini mereka jaga dalam diam. Bukan sekadar perjalanan fisik, tapi perjalanan untuk benar-benar belajar tentang arti ikhlas dan kembali hanya untuk Allah.

Facebook
LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest Blog

Konsultasi WhatsApp
1