
Islam mengajarkan toleransi. Islam mengajarkan kita untuk menghargai sesama, menjaga lisan, menghindari prasangka, serta tidak mudah merendahkan orang lain. Di zaman ketika semua orang bisa menyampaikan pendapat hanya dengan beberapa ketukan di layar, perbedaan menjadi sesuatu yang sangat mudah ditemukan. Berbeda pendapat di media sosial, pilihan dengan teman, cara memahami suatu persoalan, kebiasaan dalan menjalankan sesuatu, bahkan berbeda cara seseorang mengeskpresikan dirinya.
Ironisnya, semakin mudah kita terhubung, semakin mudah pula kita terpecah. Satu komentar bisa memicu perdebatan panjang. Satu unggahan bisa membuat seseorang langsung dicap buruk. Bahkan terkadang kita menilai seseorang hanya berdasarkan satu potongan informasi tanpa mengetahui keseluruhan ceritanya. Lalu, mengapa dalam kehidupan sehari-hari kita masih sering mudah menghakimi? Apakah karena kita belum memahami makna toleransi dengan benar? Atau jangan-jangan karena ego kita lebih cepat bekerja daripada akhlak kita?
Islam Mengajarkan Toleransi dalam Kehidupan
Ketika membicarakan toleransi, sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai sikap membiarkan semua hal atau menyetujui semua pendapat. Padahal, toleransi tidak selalu berarti menyetujui. Toleransi berarti mampu menghargai keberadaan, perbedaan, dan hak orang lain tanpa harus kehilangan prinsip yang kita yakini. Inilah salah satu hal penting yang perlu dipahami ketika membahas bahwa Islam mengajarkan toleransi.
Seorang Muslim tetap boleh memiliki keyakinan dan prinsip. Namun, keyakinan tersebut tidak menjadi alasan untuk berlaku kasar, merendahkan, menghina, atau menzalimi orang lain. Islam mengajarkan keseimbangan antara keteguhan prinsip dan keluhuran akhlak. Kita bisa berbeda tanpa harus membenci, boleh tidak setuju tanpa menghina, dan kita bisa mempertahankan prinsip tanpa merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Toleransi Bukan Berarti Kehilangan Prinsip
Salah satu kesalahpahaman tentang toleransi adalah anggapan bahwa orang yang toleran harus menerima semua hal. Padahal tidak demikian. Toleransi tidak berarti kita harus menganggap semua pendapat benar. Toleransi juga tidak berarti kita harus mengikuti semua pilihan orang lain. Ada batas antara menghargai seseorang dan menyetujui pendapatnya. Kita dapat mengatakan, “Saya memiliki pandangan yang berbeda,” tanpa mengatakan, “Kamu bodoh.” atau bisa mengatakan “Saya tidak setuju dengan hal itu,” tanpa mengatakan, “Kamu orang yang buruk.”. Perbedaan pendapat seharusnya tidak otomatis berubah menjadi serangan terhadap pribadi. Di sinilah kedewasaan seseorang diuji.
Mengapa Kita Begitu Mudah Menghakimi?
Menghakimi sering kali terasa mudah karena kita hanya melihat sesuatu dari sudut pandang sendiri. Ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pemahaman kita, otak kita dengan cepat membuat kesimpulan. Dia pasti sombong, tidak peduli, memang seperti itu orangnya, orang seperti dia memang tidak bisa dipercaya. Masalahnya, kita sering kali membuat kesimpulan sebelum mengetahui fakta. Kita melihat tindakan seseorang tetapi tidak mengetahui alasannya, melihat hasil akhirnya namun tidak mengetahui proses yang dilaluinya, kita mendengar satu cerita tetapi tidak mendengar cerita dari sisi lainnya. Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam menilai orang lain.
Salah satu kebiasaan yang perlu kita tinggalkan adalah menilai seseorang hanya berdasarkan satu potongan informasi. Seseorang mengunggah sesuatu yang terlihat buruk kita langsung menyimpulkan karakternya, melakukan kesalahan lalu langsung menganggap seluruh dirinya buruk, seseorang pernah melakukan dosa kita merasa berhak menentukan masa depannya. Padahal, manusia bisa berubah. Orang yang hari ini melakukan kesalahan bisa menjadi jauh lebih baik di masa depan. Begitu pula sebaliknya. Karena itu, jangan menjadikan satu kesalahan seseorang sebagai identitas permanennya.
Perbedaan Tidak Selalu Berarti Kesalahan
Tidak semua orang yang berbeda dari kita berarti salah. Ada perbedaan yang muncul karena pengalaman hidup yang berbeda, lingkungan yang beda, tingkat pemahaman yang tidak sama, ada pula perbedaan dalam persoalan yang memang memiliki ruang untuk perbedaan pendapat. Sayangnya, terkadang kita menggunakan standar pribadi sebagai satu-satunya ukuran kebenaran. Jika seseorang berpikir seperti kita dia dianggap benar tetapi apabila berbeda dianggap salah. Padahal, kehidupan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar “sama dengan saya” atau “berbeda dengan saya”.
Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan tidak dapat dihindari. Bahkan di antara sesama Muslim pun dapat ditemukan perbedaan dalam berbagai persoalan. Perbedaan tersebut tidak seharusnya membuat kita kehilangan rasa persaudaraan. Ketika perbedaan muncul akhlak justru semakin penting. Karena ketika kita sepakat, menghargai orang lain terasa mudah. Namun ketika kita tidak sepakat, di situlah kualitas akhlak kita benar-benar terlihat.
Islam Mengajarkan Toleransi Melalui Menjaga Lisan
Salah satu bentuk toleransi yang sering dilupakan adalah menjaga ucapan. Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya berbicara dengan baik atau memilih diam ketika tidak ada kebaikan dalam ucapan tersebut. Di era digital, menjaga lisan tidak hanya berarti menjaga apa yang keluar dari mulut. Jari kita, komentar, caption, pesan yang kita teruskan semuanya bisa menjadi lisan. Karena itu, sebelum mengetik sesuatu, kita perlu bertanya : Apakah ini benar?, perlu disampaikan?, apakah cara menyampaiakannya baik?, apa ucapan ini akan menyakiti seseorang tanpa alasan yang benar? Pertanyaan sederhana seperti ini dapat mencegah banyak masalah.
Bagi generasi yang tumbuh bersama media sosial, toleransi memiliki tantangan tersendiri. Kita setiap hari melihat berbagai macam pendapat. Algoritma media sosial bahkan sering membuat kita terus melihat konten yang sejalan dengan pandangan kita. Akibatnya, kita bisa hidup dalam sebuah “ruang” yang membuat kita merasa bahwa semua orang berpikir seperti kita. Ketika akhirnya bertemu dengan pendapat yang berbeda, kita merasa terganggu. Padahal, dunia nyata memang penuh perbedaan. Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk belajar, bukan ruang untuk merasa bahwa hanya kelompok kita yang benar.
Mengoreksi Berbeda dengan Menghakimi
Ini juga penting untuk dibedakan. Dalam kehidupan, tentu ada situasi ketika kita perlu mengingatkan seseorang. Namun, mengoreksi tidak sama dengan menghakimi. Mengoreksi berorientasi pada perbaikan sedangkan menghakimi sering kali berorientasi pada pelabelan. Mengoreksi berkata “Menurut saya, bagian ini perlu diperbaiki.” sedangkan menghakimi “Kamu memang orang yang tidak benar.” Mengoreksi membahas perbuatan dan menghakimi menyerang pribadi. Cara menyampaikan nasihat sangat menentukan apakah nasihat tersebut menjadi jalan kebaikan atau justru menjadi sumber konflik.
Nasihat yang baik tidak membutuhkan penghinaan, ada orang yang merasa bahwa semakin keras kata-katanya, semakin efektif nasihatnya. Padahal, tidak selalu demikian. Seseorang bisa menyampaikan kebenaran dengan cara yang membuat orang lain merasa dihargai. Sebaliknya, seseorang juga bisa menyampaikan sesuatu yang benar dengan cara yang justru membuat orang lain menutup hati. Karena itu, kebenaran dan akhlak tidak seharusnya dipisahkan. Ketika ingin mengingatkan seseorang, jangan hanya bertanya “Apakah yang saya sampaikan benar?” tanyakan juga “Apakah cara saya menyampaikannya sudah benar?”.
Jangan Jadikan Agama sebagai Alasan untuk Merendahkan
Agama seharusnya membuat manusia semakin dekat kepada Allah dan semakin baik akhlaknya. Jika seseorang semakin banyak belajar agama tetapi semakin mudah menghina, merendahkan, dan mencaci orang lain, ada sesuatu yang perlu dievaluasi. Ilmu agama bukan sekedar tentang seberapa banyak yang kita ketahui tetapi tentang bagaimana pengetahuan tersebut membentuk perilaku. Akhlak adalah salah satu cermin dari ilmu yang kita miliki.
Pada akhirnya, toleransi bukan hanya tentang bagaimana kita bersikap kepada orang yang sama dengan kita. Toleransi justru diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda. Ketika seseorang memiliki pendapat yang berlawanan, tidak memahami sesuatu seperti yang kita pahami, melakukan sesuatu yang tidak kita sukai. Saat itulah kita memiliki pilihan seperti membalas dengan emosi atau merespons dengan akhlak, menghakimi atau memahami, merendahkan atau menghargai dan memperpanjang konflik atau memilih berdamai.
Bagaimana Cara Melatih Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari
● Berhenti Sebelum Bereaksi : Jangan langsung membalas ketika sedang emosi. Berikan waktu kepada diri sendiri untuk berpikir.
● Bedakan Fakta dan Asumsi : Tanyakan apakah sesuatu benar-benar terjadi atau hanya kesimpulan kita.
● Dengarkan Sebelum Menilai : Berikan kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan.
● Hindari Labeling : Jangan menjadikan satu kesalahan sebagai identitas seseorang.
● Jaga Ucapan : Baik secara langsung maupun melalui media sosial.
● Belajar Mengatakan “Saya Tidak Tahu” : Tidak mengetahui sesuatu bukanlah aib. Justru mengakui keterbatasan adalah bentuk kerendahan hati.
● Jangan Takut Berbeda : Perbedaan tidak otomatis membuat kita menjadi musuh.
● Ingat Bahwa Kita Juga Bisa Salah : Kesadaran ini dapat membuat kita lebih berhati-hati dalam menilai orang lain.
Kesimpulan
Islam mengajarkan toleransi, tetapi toleransi bukan sekadar teori yang kita pahami. Toleransi harus terlihat dalam cara kita berbicara, bersikap, berdiskusi, menggunakan media sosial, dan memperlakukan orang lain. Kita tidak harus menyetujui semua hal untuk bisa menghormati seseorang, sepemikiran untuk bisa menjaga persaudaraan, dan kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan untuk membuktikan bahwa kita benar. Kadang, kedewasaan justru terlihat ketika kita mampu menahan ego. Karena menjadi Muslim bukan hanya tentang bagaimana kita beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana akhlak kita kepada sesama manusia.
Dan bisa jadi, orang yang hari ini kita anggap salah justru menjadi pengingat bahwa kita pun masih memiliki banyak kekurangan. Jika perjalanan menuju kebaikan adalah sesuatu yang ingin kita dekatkan dalam kehidupan, termasuk melalui perjalanan spiritual ke Tanah Suci dapat menjadi salah satu langkah untuk mempersiapkan perjalanan ibadah dengan lebih terencana. Yang terpenting, bukan hanya sampai di Tanah Suci, tetapi bagaimana perjalanan tersebut membawa kita pulang dengan hati dan akhlak yang lebih baik.



