
Bertambahnya amal merupakan sesuatu yang seharusnya kita syukuri. Semakin banyak salat yang kita jaga, semakin sering membaca Al-Qur’an, semakin rutin bersedekah, semakin banyak berzikir, dan semakin berusaha meninggalkan dosa, tentu merupakan perkembangan yang baik dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, ada satu hal yang terkadang tidak kita sadari yaitu amal bertambah, tetapi kesombongan juga ikut tumbuh. Kita mulai merasa lebih baik daripada orang lain karena ibadah kita lebih banyak, mudah menilai orang yang belum melakukan apa yang kita lakukan. Kita merasa lebih dekat kepada Allah dibandingkan mereka yang ibadahnya belum terlihat.
Di sinilah perjalanan spiritual membutuhkan kewaspadaan. Sebab, persoalannya bukan hanya seberapa banyak amal yang kita kerjakan, tetapi juga apa yang terjadi pada hati setelah kita mengerjakannya. Amal seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, semakin lembut kepada sesama, semakin takut kepada Allah, dan semakin sadar bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan. Jika semakin banyak amal justru membuat kita semakin mudah merendahkan orang lain, mungkin ada sesuatu dalam hati yang perlu kita evaluasi.
Amal Bertambah Seharusnya Membuat Hati Semakin Rendah Hati
Salah satu tanda kebaikan yang tumbuh dalam diri seseorang adalah munculnya kerendahan hati. Semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin besar kesadarannya bahwa dirinya hanyalah seorang hamba. Ia menyadari bahwa kemampuan untuk beribadah bukan semata-mata karena kekuatannya sendiri. Ada kesehatan yang Allah berikan, waktu yang Allah luangkan, rezeki yang memungkinkan seseorang bersedekah, dan kesempatan yang membuat seseorang bisa belajar agama. Bahkan keinginan untuk berbuat baik pun merupakan nikmat. Karena itu, ketika amal bertambah, seharusnya yang tumbuh bukan perasaan “Aku lebih baik”, melainkan “Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk berbuat baik.” Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya terhadap hati sangat besar.
Ketika Amal Bertambah dan Rasa Lebih Baik Mulai Muncul
Kesombongan dalam amal tidak selalu muncul dalam bentuk yang terang-terangan. Tidak selalu seseorang berkata, “Aku lebih baik daripada kamu.” Terkadang kesombongan muncul secara sangat halus. Misalnya, ketika melihat seseorang yang jarang ke masjid kita langsung menganggapnya kurang baik, melihat seseorang yang belum berhijrah langsung merasa lebih suci, ketika mengetahui orang lain masih melakukan dosa tertentu kita merasa dirinya berada di tingkat yang lebih tinggi.
Padahal kita tidak mengetahui bagaimana akhir perjalanan seseorang. Orang yang hari ini masih banyak melakukan kesalahan bisa saja besok mendapatkan hidayah dan berubah menjadi jauh lebih baik. Sebaliknya, seseorang yang hari ini terlihat rajin beribadah tetap harus memohon kepada Allah agar amalnya diterima dan hatinya dijaga. Karena itu, amal bertambah kesombongan adalah kondisi yang perlu diwaspadai sejak awal.
Banyak Amal Tidak Otomatis Membuat Seseorang Lebih Mulia
Islam tidak mengajarkan bahwa seseorang menjadi mulia hanya karena amalnya terlihat banyak. Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Ketakwaan bukan hanya persoalan kuantitas amal yang terlihat. Ia juga berkaitan dengan hati, keikhlasan, ketaatan, dan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain. Seseorang mungkin memiliki banyak aktivitas ibadah, tetapi tetap harus menjaga dirinya dari riya, ujub, dan kesombongan. Karena itu, jangan sampai kita sibuk menghitung amal sendiri tetapi lupa memeriksa kondisi hati.
Hal lain yang dapat menghancurkan kesombongan adalah menyadari bahwa kita tidak mengetahui secara pasti amal mana yang diterima. Kita mungkin melihat diri sendiri rajin beribadah. Namun, apakah semuanya diterima? Hanya Allah yang mengetahui. Bisa jadi amal yang menurut kita besar ternyata memiliki kekurangan dalam niat. Sebaliknya, bisa jadi sebuah kebaikan kecil yang kita anggap sepele justru sangat bernilai di sisi Allah karena dilakukan dengan ikhlas. Kesadaran ini membuat seorang Muslim tidak mudah merasa aman dengan amalnya. Ia tetap berharap kepada rahmat Allah sekaligus takut jika amalnya tidak diterima.
Tanda Amal Bertambah tetapi Kesombongan Ikut Tumbuh
1. Mulai Mudah Merendahkan Orang Lain
Ketika melihat orang lain melakukan kesalahan, kita tidak lagi merasa prihatin, tetapi justru merasa lebih tinggi. Kita mulai berpikir : “Untung aku tidak seperti dia.” Kalimat semacam ini terlihat sederhana, tetapi jika terus dipelihara, dapat membentuk perasaan superior dalam diri. Padahal kita tidak pernah tahu bagaimana posisi seseorang di hadapan Allah.
2. Merasa Amal Sendiri Sudah Banyak
Kesombongan juga dapat muncul ketika seseorang mulai merasa amalnya sudah cukup. Karena rajin membaca Al-Qur’an ia merasa sudah lebih baik, rutin bersedekah merasa sudah cukup dermawan, menjaga salat jadi merasa tidak perlu lagi melakukan introspeksi. Padahal orang yang benar-benar memahami kebesaran Allah justru akan semakin menyadari betapa sedikit amal yang dimilikinya dibandingkan dengan besarnya nikmat Allah.
3. Sulit Menerima Nasihat
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah ketika amal membuat seseorang merasa tidak mungkin salah. Ketika dinasihati ia langsung defensif, dikritik merasa orang lain tidak memahami agama, dan ketika ada yang mengingatkan ia menganggap orang tersebut tidak selevel dengannya. Padahal tidak ada manusia yang terbebas dari kekurangan. Bahkan orang yang rajin beribadah tetap membutuhkan nasihat.
4. Lebih Sibuk Melihat Kekurangan Orang Lain
Semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk membicarakan dosa orang lain, semakin sedikit waktu yang kita gunakan untuk memperbaiki diri. Kita mengetahui kesalahan banyak orang, tetapi lupa bahwa diri sendiri juga memiliki kekurangan yang mungkin tidak terlihat. Muhasabah membuat kita bertanya:
“Apa yang harus aku perbaiki?” Kesombongan membuat kita bertanya: “Apa yang salah dari mereka?” Perbedaannya terletak pada arah pandangan hati.
5. Senang Ketika Amal Kita Diketahui
Ada perbedaan antara berbagi pengalaman untuk menginspirasi dan menunjukkan amal untuk mendapatkan pengakuan. Jika hati mulai merasa kecewa ketika tidak ada yang mengetahui kebaikan kita, kita perlu berhati-hati. Sebab, bisa jadi yang sedang kita cari bukan lagi ridha Allah, melainkan apresiasi manusia. Karena itu, memiliki amal yang hanya diketahui oleh Allah dapat menjadi salah satu cara menjaga hati.
Mengapa Amal Bisa Melahirkan Kesombongan?
Pertanyaan berikutnya adalah mengapa sesuatu yang seharusnya mendekatkan kita kepada Allah justru dapat menjadi jalan munculnya kesombongan? Salah satu penyebabnya adalah karena manusia mudah mengaitkan keberhasilan dengan dirinya sendiri. Kita lupa bahwa Allah yang memberikan kemampuan, kesempatan, kesehatan, serta Allah lah yang membuka hati untuk mencintai ibadah. Akhirnya, kita melihat amal sebagai prestasi pribadi, bukan sebagai nikmat dari Allah. Di situlah ujub dapat tumbuh.
Jangan sampai amal menjadi alasan untuk merendahkan orang lain. Ada ironi dalam kehidupan spiritual yaitu seseorang dapat melakukan kebaikan tetapi kemudian menggunakan kebaikan tersebut untuk menyakiti orang lain. Ia rajin beribadah, tetapi lisannya mudah merendahkan, banyak belajar agama namun sulit menghargai orang yang masih belajar, menjaga ibadahnya tetapi merasa dirinya lebih suci. Inilah yang perlu kita hindari. Kebaikan seharusnya membuat kita semakin dekat dengan Allah dan semakin baik kepada manusia, bukan semakin tinggi hati.
Amal yang Benar Seharusnya Mengubah Akhlak
Salah satu indikator yang bisa kita gunakan untuk melakukan evaluasi adalah melihat apakah ibadah memberikan pengaruh terhadap akhlak. Apakah salat membuat kita lebih sabar?, membaca Al-Qur’an menjadikan kita lebih lembut?, sedekah membuat kita lebih peduli?, puasa bisa membuat kita lebih mampu mengendalikan diri?, dan apakah zikir membuat hati lebih tenang?
Jika ibadah semakin banyak tetapi kita semakin kasar, mudah menghina, sulit meminta maaf, dan gemar merendahkan orang lain, maka ada sesuatu yang perlu kita evaluasi. Bukan berarti amal tersebut tidak bernilai sama sekali, tetapi kita perlu memastikan bahwa ibadah benar-benar memberi pengaruh kepada karakter dan hati kita.
Bagaimana Menjaga Amal agar Tidak Melahirkan Kesombongan?
1. Ingat bahwa Semua Kemampuan Berasal dari Allah
Ketika berhasil melakukan kebaikan, jangan hanya melihat kemampuan diri sendiri. Ingatlah siapa yang memberikan kesehatan, waktu, kesempatan, ilmu, dan kekuatan. Semakin kita menyadari bahwa semua berasal dari Allah, semakin sulit bagi kesombongan untuk tumbuh.
2. Perbanyak Muhasabah
Luangkan waktu untuk bertanya kepada diri sendiri :
● Mengapa aku melakukan amal ini
● Apakah aku tetap akan melakukannya jika tidak ada yang mengetahui?
● Seberapa senang aku ketika dipuji karena ibadah
● Pernahkah aku merendahkan orang yang amalnya berbeda denganku?
● Sejauh mana ibadahku membuat akhlakku semakin baik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita melihat kondisi hati dengan lebih jujur.
3. Jangan Merasa Aman dari Kesalahan
Orang yang terus memperbaiki diri tidak akan merasa dirinya sudah sempurna. Ia menyadari masih banyak hal yang harus dipelajari, masih membutuhkan nasihat, dan masih bisa melakukan kesalahan. Kesadaran semacam ini merupakan benteng dari kesombongan.
4. Sembunyikan Sebagian Amal
Tidak semua kebaikan perlu diketahui manusia. Memiliki amal yang hanya diketahui oleh Allah dapat membantu kita melatih keikhlasan. Tidak perlu selalu menceritakan setiap ibadah, sedekah, atau kebaikan yang dilakukan. Biarkan ada sebagian hubungan antara kita dan Allah yang tidak diketahui siapa pun.
5. Ingat Kematian
Kematian mengingatkan kita bahwa pada akhirnya semua status, pujian, popularitas, dan penilaian manusia akan ditinggalkan. Yang kita bawa adalah amal dan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Kesadaran terhadap kematian dapat membuat kita lebih rendah hati.
Amal Bertambah, Seharusnya Rasa Takut kepada Allah Juga Bertambah
Semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin besar pula rasa takutnya untuk menyimpang. Ia tidak mudah merasa aman dengan amalnya, justru semakin banyak memohon agar Allah menerima amalnya. Karena itu, pertumbuhan spiritual bukan hanya terlihat dari bertambahnya aktivitas ibadah, tetapi juga dari perubahan sikap hati. Semakin banyak amal, semakin rendah hati, banyak ilmu juga semakin sadar bahwa masih banyak yang belum diketahui, dan semakin dekat kepada Allah maka semakin besar juga kesadaran bahwa kita hanyalah seorang hamba.
Bagaimana jika kita menyadari kesombongan dalam diri?. Apabila kita merasa pernah memiliki sikap tersebut, jangan langsung berputus asa. Kesadaran itu justru bisa menjadi awal yang baik, akui kepada Allah bahwa hati kita masih perlu diperbaiki. Perbanyak istighfar, perbarui niat, kurangi membandingan diri dengan orang lain, dan teruslah beramal tanpa merasa lebih tinggi. Jangan berhenti berbuat baik hanya karena takut menjadi sombong. Yang perlu diperbaiki adalah hati di balik amal, bukan meninggalkan amalnya.
Kesimpulan
Amal yang bertambah seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Allah, bukan semakin merasa lebih baik dari orang lain. Semakin banyak ibadah yang dilakukan, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga keikhlasan, merendahkan hati, dan menyadari bahwa semua kesempatan untuk berbuat baik adalah karunia dari Allah. Jangan sampai kebaikan yang kita lakukan justru menjadi alasan untuk memandang rendah orang lain. Sebaliknya, jadikan setiap amal sebagai jalan untuk memperbaiki diri, memperhalus akhlak, dan semakin mengenal Allah.
Salah satu bentuk perjalanan untuk memperkuat kembali hubungan dengan Allah adalah dengan menghadirkan diri di Tanah Suci. Umroh bukan hanya tentang mengunjungi tempat yang mulia, tetapi juga tentang membawa hati untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia, melakukan muhasabah, memperbarui niat, dan mendekatkan diri kepada Allah.




